Friday, January 15, 2010

Money Can’t Buy Everything

Ditulis oleh: Mita Zoe

Apakah Anda menerima daftar pekerjaan anak disertai daftar harga layaknya menu di restoran? Jika ya, jangan menganggapnya enteng, mungkin anak sudah menganggap nilai uang atau materi lebih penting dibandingkan nilai ketulusan dan manfaat dari sebuah proses. Jika terus dibiarkan, anak akan memupuk sifat materialistis sedari kecil.

Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia Dr Tjut Rifameutia MA mendefinisikan materialistis adalah suatu sifat yang mengedepankan nilai materi pada keadaan yang kebutuhan materi sudah terpenuhi atau berlebihan. Anak yang memiliki sikap dan sifat matre ini biasanya terlihat konsumtif, selalu ingin memiliki barang-barang mutakhir, padahal tidakterlalu membutuhkannya. Anak cenderung ingin memiliki uang jajan berlebih, berteman dengan teman-teman yang berasal dari kelompok yang berada. Anak juga melakukan sesuatu dengan memperhitungkan untung ruginya dari segi materi seperti meminta reward atau dengan syarat-syarat.

Rifameutia mengatakan, hal ini terjadi karena anak belajar dari pengalaman dunia di sekitarnya. ‘’Anak diperkenalkan dengan konsep materi yang salah sehingga terbentuk pola kebiasaan tersebut pada anak,’’ jelasnya. Seperti, anak biasa melihat kekaguman orang-orang pada mereka yang bergaya trendy dan memiliki barang-barang baru. Bisa jadi juga karena orangtua seringkali bercerita yang mengedepankan nilai-nilai ekonomi dan materi. ‘’Sehingga anak merasa bahwa hidup itu untuk memperoleh nilai ekonomi yang tinggi dan memiliki berbagai materi,’’ sambung Tia.

Psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Januarani Razak Msi, mengatakan sebenarnya anak belum paham betul arti dari materialistis. Konsep materialistis ini berasal dari orangtua, yaitu bagaimana orangtua mempersepsikan materi. Dalam mengadopsi sebuah konsep umumnya anak-anak ada yang mampu mendefinisikan sendiri hal-hal yang ada di lingkungannya, sehingga bisa membedakan mana yang baik dan benar. Tapi, ada juga anak yang menjiplak hal-hal yang dilihatnya. “Alhasil pandangan orangtua dalam menilai materi yang tercermin dalam polah tingkah bisa tertular pada anak,” katanya.

Januarani memaparkan, jika sifat ini terus dibiarkan tumbuh pada anak, alhasil materi akan menjadi tujuan hidupnya kelak. ‚’Hal ini tentu berbahaya, karena anak berpotensi menjadi seseorang yang bisa mendewakan materi dan melakukan tindakan apapun untuk mewujudkannya salah satunya korupsi,’’ ujarnya. Oleh sebab itu, tanamkan konsep materi yang benar. Materi bukanlah tujuan melainkan sarana dan penunjang. Ajarkan materi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup dan beramal pada orang lain. Semakin banyak materi yang didapatkan, maka semakin banyak orang yang bisa dibantu. ”Paling penting berikan pemahaman, materi bukanlah hal yang kekal dan bisa kapan saja diambil oleh yang maha kuasa,” kata Januarani.

Materialistis vs selera tinggi

Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Wahyu Indiati Msi, mengingatkan jangan sampai orangtua salah menilai, anak yang menyukai barang bernilai tinggi belum tentu materialistis. Bisa jadi si anak memiliki selera yang tinggi dalam menilai sesuatu. ’’Persepsi ini dibentuk dari nilai-nilai yang ditanamkan orangtua saat beropini menilai suatu barang,’’ katanya. Untuk itu, orangtua perlu memperkenalkan beragam pilihan barang atau lingkungan. Misalnya, anak tak hanya diajak ke mal saja, tapi juga ke panti asuhan. Atau anak tak hanya dibelikan barang bermerek saja, tapi juga barang yang harganya lebih murah namun kualitasnya tak kalah. ”Kedekatan (bonding) antara anak-orangtua juga mempengaruhi sampai atau tidaknya pesan yang disampaikan orangtua,” katanya.

Indiati melanjutkan, anak dikatakan materialistis ketika sudah sampai batas tidak pernah merasa puas dalam memenuhi kebutuhan dirinya terhadap materi. Biasanya ini terlihat anak seringkali menuntut untuk dipenuhi keinginannya. Misalnya, anak menuntut dibelikan mainan kemudian meminta mainan jenis yang lain dalam waktu yang singkat. Sehingga tak urung anak matre dikategorikan manja yang tidak memahami arti keterbatasan, padahal dalam kehidupan nyata tidak semua keinginan tercapai.

Indiati mengatakan, orangtua perlu hati-hati memberikan materi khususnya uang sebagai bentuk penghargaan (reward). Karena materi bersifat imun, artinya nilainya akan semakin turun jika terlalu sering diberikan, selain itu anak tidak pernah puas dan anak merasa tidak menemukan ketertarikannya lagi. Sebenarnya penghargaan bisa diberikan melalui pelukan, senyuman, dan hal-hal yang bersifat sosial. Meskipun benda, usahakan benda yang berdaya guna.”Anak yang sudah tahu nilai uang, cenderung mengumpulkan lalu membelanjakannya, anak pun jadi konsumtif,” katanya.

Januarani memaparkan, di usia dua tahun anak sudah bisa diajarkan untuk mengendalikan kebutuhan materinya. Misalnya, ketika membawa anak berbelanja di supermarket, minta anak membuat daftar kebutuhannya sendiri dengan membuat gambar sederhana dari barang-barang tersebut seperti susu, pampers, permen, dan lain sebagainya. Jangan lupa tanyakan seberapa penting barang-barang tersebut baginya. Jika anak mencantumkan jumlah barang terlalu banyak, jangan langsung membelalakkan mata.

Coba diskusikan jumlah yang sesuai berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya, lalu terangkan akibatnya jika anak membeli terlalu banyak. Luangkan waktu mengobrol dengan anak untuk membicarakan segala hal, termasuk membicarakan konsep materi sampai ketika anak ingin membeli sesuatu. “Jangan membeli barang yang tidak tercantum dalam daftar pribadinya, meski anak merengek. Diperlukan sikap konsisten dari orangtua,” kata Januarani. Jangan terapkan sikap berlebih-lebihan sehingga anak memiliki tingkat kebutuhan yang tinggi terhadap materi. Seperti, membiasakan anak membeli baju baru jika pergi ke acara ulang tahun. ’’Berhemat diperlukan untuk menghindari sikap materialistis,’’ ujar Januarani. Anak perlu diajarkan untuk menilai sesuatu dari kebutuhannya. Orangtua tak sekadar melarang anak membeli ini dan itu, tapi juga mencontohkannya.

Tak jarang orangtua seringkali mencari jalan pintas untuk menekan keinginan anak membeli sesuatu, seperti membohongi anak dengan alasan ’tidak punya uang’. ’’Sebaiknya katakan dengan bijaksana, bahwa Anda memiliki uang sejumlah itu namun harus dibagi-bagi untuk kebutuhan lainnya,’’ kata Januarani. Jika perlu berikan perinciannya pada anak seperti biaya sekolah, belanja rumah tangga, makan bersama, menyumbang yayasan, membeli baju anak, dan kebutuhan pribadi Anda. Ini akan mengajarkan anak menunda keinginannya. Di sisi lain, beri pemahaman anak bahwa materi tidak bisa memenuhi semua kebutuhan. Untuk itu orangtua perlu mengetahui benar kemampuan dan konsep dirinya agar bisa menularkannya pada anak. Misalnya, paparkan keadaan keuangan Anda dengan bijak pada si anak.

Masing-masing anggota keluarga membuat daftar biaya hidupnya, tulis secara rinci termasuk membeli baju atau makan bersama di kantin. Diskusikan dan coret hal-hal yang tidak perlu, hal ini juga berlaku untuk orangtua. Tawarkan solusi lain, misalnya acara makan di kantin diganti menjadi makan di rumah. ”Jangan menutup-nutupi keadaan kemampuan Anda pada si anak, ini akan menjadi pembelajaran baginya untuk menilai dan bertindak sesuai dengan kemampuan dirinya,” jelas Januarani.

Januarani mengatakan, sifat matrealistis bisa mempengaruhi nilai sebuah ketulusan. Ketika menerima sesuatu, orangtua jangan langsung menilainya dari segi nilai materi dan sikap yang menggambarkan hal tersebut. Tanpa disadari, anak menilai bahwa sebuah pemberian hanya dilihat dari nilai materinya saja. Materialistis bisa mengubur rasa empati anak. Karena anak terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah sehingga seringkali mengecilkan suatu persoalan.

Dalam persepsinya, materi bisa didapatkan dengan mudah begitupun pada orang lain tanpa menyadari bahwa ada orang-orang yang tidak beruntung di sekitarnya. Selain itu, anak juga cenderung tidak menghargai sesuatu, tambah Indiati, cobalah sesekali ajak anak berjalan-jalan mengikuti proses pembuatan sesuatu seperti proses membuat pensil atau kerajinan tangan. Dengan melihat kesulitan dan kerja keras dari pembuatan tersebut, anak akan lebih menghargai segala sesuatu yang mereka miliki. ”Tugas manusia bukanlah sekadar mensejahterakan dirinya sendiri melainkan juga orang disekitarnya,” ujar Januarani.

Rifameutia menambahkan, dampak lain dari sikap matre anak jadi menghalalkan segala cara untuk memperoleh yang diinginkannya dan mempertahankan kepemilikannya atas suatu barang dengan begitu kuat. Alhasil, ia tidak mau berbagi. Ada baiknya orangtua juga mengimbanginya dengan mengajarkan nilai-nilai persahabatan, kerja keras dan kerja sama lewat bercerita.

Sumber: Inspired Kids Mag

Posted by Mr. P in 01:51:31 | Permalink | No Comments »

Thursday, December 3, 2009

BUDAYA ‘TANGGAP MEDIA’ DI MULAI DARI RUMAH

Ditulis oleh: Veronica Colondam

Di bawah ini adalah kompilasi dan intisari dari berbagai langkah yang orangtua dapat lakukan untuk membangun budaya tanggap media yang dikutip dari James Steyer dan seorang ahli perkembangan anak Dr.T.Berry Brazelton:

Mulai sejak dini
Yang dimulai sejak dini bukan saja dalam pemilihan media atau kegiatan positif untuk anak. Peran anda dalam mendidik anak termasuk membuat aturan,menentukan budaya di rumah dan hal lainnya. Hal ini seperti ‘mempersiapkan lahan’ yang gembur untuk anak anda tumbuh kembang.

Berbagai studi menemukan bahwa anak yang aktif dalam kegiatan positif seperti menekuni hobi, berorganisasi, suka berolahraga dan membantu orangtua di rumah akan cenderung mempunyai prestasi akademik yang lebih baik dari mereka yang sejak kacil gandrung nonton TV atau main Play Station/games.
Ini bukan berarti kita harus menyingkirkan TV,video,CD player atau computer. Semua ini bicara tentang ‘keseimbangan’. Budaya menerapkan keseimbangan antara media, kegiatan positif di luar rumah dan tuntutan akademik adalah kunci memulai budaya sehat perkembangan anak anda secara holistic.

Jadikan segala kesempatan untuk refleksi diri
Orangtua dapat mengambil kesempatan membahas atau membuka pembicaraan dengan anak di saat menonton TV, mendengarkan musik atau mengakses internet bersama. Dalam kesempatan ini, berterusteranglah jika ada hal yang mengganggu, yang tidak anda sukai, dan nyatakan alasannya. Hal ini terbukti dapat mempererat hubungan anda dengan anak anda karena anak anda akan secara tidak langsung mengerti pendirian dan pendapat anda.

Pada kenyataannya, orangtua yang tanggap dan memerhatikan apa yang ditonton atau didengarkan oleh anak-anaknya, memiliki kecenderungan untuk membina hubungan yang lebih dekat dengan anaknya. Hal ini dapat mengurangi risiko anak untuk terlibat dalam rokok, alcohol, atau bahkan dalam penyalahgunaan narkoba.

Televisi dan radio bisa dijadikan acuan untuk melihat dan mendengar hal yang negatif dan positif serta memengaruhi gaya hidup. Di sini dapat kita lihat bagaimana program-program TV, hiburan bahkan lirik musik dapat memengaruhi pengertian seseorang tentang narkoba dan kehidupan seks bebas.

Pengawasan saat anak menonton TV/Film
Suatu studi seperti dikutip Steyer dalam bukunya menemukan 85% responden orangtua ‘mengaku’ mengawasi anak-anaknya saat mereka menonton TV, sementara 61% anak-anak dari responden yang sama mengakui tidak diawasi orangtuanya! Bukankah hal ini tidak cocok?

Hal ini terjadi jika orangtua mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anaknya dalam hal ‘pengawasan’ menonton TV atau banyak orangtua yang tidak sadar/malu untuk mengakaui kelengahan mereka dlam hal yang satu ini!

Pengawasan bukan hanya berbicara tentang duduk bersama anak kita di saat mereka menonton TV.
Lebih dari itu, pengawasan berarti cermat memilih “rating” yang cocok untuk anak kita.Contoh untuk film, perhatikan umur minimal penonton yang ditentukan:
Ada yang untuk 13 tahun ke atas (PG 13), atau 17 tahun dan 21 tahun ke atas ®. “PG” berarti Parental Guidance yang artinya mengimbau orangtua untuk duduk bersama dan membimbing anak selama menonton.”R” untuk Rated yang berarti jelas mengandung kekerasan dan seks.

Inilah bentuk tanggungjawab minimal orangtua dalam mengendalikan atau memengaruhi pemilihan tayangan yang efektif dan yang mendidik bagi anak-anak kita.

* Ajar anak untuk meminta izin
Jika anak anda ingin menonton TV, bermain game atau mendengarkan musik, ajar mereka dari sejak dini untuk minta izin anda terlebih dahulu.
Selain hal ini mengajar anak bahwa anda yang memegang kendali di rumah, hal ini juga mendatangkan kesempatan untuk membuat anak melihat akan adanya pilihan-pilihan kegiatan lain seperti membaca, bermain bola di luar atau melakukan sesuatu yang istimewa bersama.

* Tonton dan dengarkan bersama
Sediakanlah waktu untuk menonton TV, mendengarkan musik dan main games bersama anak. Dengan demikian, orangtua dapat terlibat langsung dalam menikmati dan mempelajari media yang dikonsumsi anak-anak. Ambil waktu untuk menonton beberapa acara TV kesukaan anak anda, atau pergi nonton bioskop dengan anak anda, atau dengarkan musik kesukaan mereka. Anda mungkin terkejut betapa menyenagkannya kegiatan itu. Di samping itu, anda juga berkesempatan mempelajari isi film, video atau lirik lagu untuk membimbing mereka.

** Musik
Selain TV, anak-anak juga menghabiskan eaktu yang cukup banyak dengan mendengarkan musik lewat radio, CD player/kaset (juga stasiun MTV!). Sebuah penelitian menemukan bahwa remaja setidaknya menghabiskan dua sampai empat jam sehari mendengarkan musik. Oleh karena itu orangtua jangan pernah menganggap remeh setiap lirik yang terkadang cukup eksplisit dalam menggambarkan cinta atau seks atau kekerasan.

“Berbicaralah tentang musik yang mereka dengarkan dan lirik-liriknya yang sering kali menyesatkan ini.”

Donald Roberts dari Universitas Stanford, seorang pioneer dalam memelajari dampak musik terhadap perilaku anak menyatakan bahwa “anak-anak memelajari lirik lagu” dan ‘menghidupi’ harapan-harapan atau kata-kata yang terkandung di dalamnya sehingga memengaruhi perilaku mereka.

**Diet Media
Sebagaimana layaknya kaum ibu ‘berdiet-ria’ untuk mencegah kenaikan berat badan dengan makan makanan sehat secara teratur,tinggi serat,rendah lemak,teratur berolahraga, dan membiasakan diri makan separuh porsi biasa, maka ‘diet media’ berbicara tentang membatasi konsumsi media anak dengan memilih “makanan media” yang baik dan tepat.

**Internet
Internet merupakan lingkungan media yang semakin meningkat di mana anak-anak menjelajah tanpa pengawasan berisiko tinggi. Sebuah studi di kongres Amerika Serikat tentang imternet menemukan satu dari empat anak usia 10-17 tahun ‘tidak sengaja’ masuk ke situs-situs porno saat berkelana di internet!

Pornografi menjadi salah satu hal yang paling dikhawatirkan orangtua saat anak mengakses internet dan merupakan hal yang dicari anak/remaja karena mudah dan gratis! Perhatikan situs-situs yang diakses anak kita. Jadilah orangtua yang tanggap teknologi dan belajar untuk selalu mengecek sejarah situs-situs yang dijelajahi anak kita dengan menelusuri “cookies” di computer anda atau dengan memasang program khusus seperti net-nanny yang dapat memblokir situs-situs tertentu yang berbau seks,kekerasan atau sejenisnya.

“Dengan menjelajahi kehidupan media mereka, bukan saja anda menunjukan bahwa anda peduli dan menghargai mereka tetapi juga tertarik dengan pilihan-pilihan mereka.”

Jika anda sedang bermain internet bersama anak anda dan menemukan situs-situs yang agak ‘aneh’ dengan gambar-gambar yang mencurigakan, ajarlah mereka untuk kritis dan tanyakan perasaan mereka saat itu:
“Apa pendapat kamu tentang situs ini?”
“Apa perasaan kamu saat lihat gambar-gambar seperti ini?”
“Menurut kamu,apa sih tujuan situs ini?”

Tanggap media (media literacy)
Point di atas membawa kita kepada pentingnya orangtua mengajar anaknya untuk berpikir kritis tentang media. Hal ini termasuk menganalisa, mengevaluasi dan menginterprestasikan media yang mereka lihat atau dengar. Inilah yang disebut kemampuan atau keterampilan untuk memroses pesan media yang mereka serap. Sangatlah penting untuk anak-anak merefleksikan apa yang mereka dengar dan lihat di media dalam suatu pemahaman yang kritis dan benar.

Konsep tanggap media ini harus secara simultan diajarkan sejak dini di rumah dan disekolah. Karena jika tidak, seorang anak akan kesulitan mengonsepkan atau mengartikan apa yang dia lihat atau dengar secara konsisten dan menerjemahkannya ke dalam realita hidupnya.

“Budaya menerapkan keseimbangan antara media,kegiatan positif di luar rumah dan tuntutan akademik adalah kunci memulai budaya sehat perkembangan anak secara holistic.”

Yang terakhir menurut Steyer:”Switch it off!”
Jika anak anda lepas kendali, jangan ragu dan matikan saja TV/radio/CD/gameboy/playstation anak anda. Tunjukan siapa yang berkuasa. Terkadang hal ini perlu dilakukan untuk menyatakan sikap kita di hadapan anak.

** “Langkah-langkah di atas sulit untuk diterapkan bila orangtua terlambat memulai membangun suatu budaya di rumahnya, baik dari budaya yang menyangkut norma, nilai-nilai kehidupan, cara hidup sehat, media sampai kepada prinsip tentang rokok/alcohol/narkoba.”

sumber: Buku Raising Drug-Free Children

Posted by Mr. P in 02:12:33 | Permalink | No Comments »

Sunday, November 22, 2009

Mengenal Stres pada Anak

Ditulis oleh: Elsar D.Hayer, B.A., Certified Family Therapist

Apa itu stres?
Stres adalah tekanan yang menuntut seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang menurut persepsinya ideal di saat tertentu atau kondisi yang berbeda dengan harapannya.

Contoh: Orangtua meninggal, masuk ke lingkungan baru, putus pacaran, mulai pacaran, menyelesaikan laporan yang dikejar batas waktu, kerjaan yang menumpuk, dan lain-lain.

Efek stress: membuat seseorang lebih sensitive, lebih rapuh dan labil (misalnya menjadi mudah marah, panic, gugup).

Sumber Stres
Eksternal – Tuntutan keluarga, lingkungan, teman, pekerjaan, sekolah
Internal – Keinginan, perasaan dan sikap individu dalam menghadapi tuntutan dari luar

Strategi mengatasi stress

Banyak ahli percaya ada beberapa cara yang ampuh untuk membantu anak dalam mengatasi stress. Stres yang menyerang anak biasanya menyebabkan anak menjadi mudah marah atau emosional dan frustasi. Hal ini cenderung menyebabkan berubahnya perilaku, temperamen dan sikap anak.

Bagaimana Mengatasi Stres?
• Fokus pada masalah.
• Mengurangi tuntutan eksternal. Dapat digunakan bila kita mampu mengendalikan situasinya atau masalahnya.
• Fokus pada perasaan.
• Mengontrol dan mengubah keinginan, perasaan dan sikap yang timbul karena adanya tuntutan dan meningkatkan kemampuan menghadapi stress. Dapat dilakukan bila kita kurang dapat mengendalikan situasi.

“Mengontrol dan mengubah keinginan, perasaan dan sikap yang timbul karena adanya tuntutan dan meningkatkan kemampuan menghadapi stress.”

Strategi Pikiran
Cara menghadapi stress menggunakan pikiran kita, antara lain:
•  “Reframing”
Fokus pikiran pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang seharusnya. Pikiran dihubungkan dengan tujuan kita.
•  Menghitung Sampai 10
Menguntungkan kita untuk mengontrol dan berpikir kembali tentang situasi atau strategi yang lebih baik.
•  Pikirkan kembali
Apakah memang ini masalah atau bukan, apakah orang lain melihatnya sama seperti kita?
•  Imagery / visualisasi
Bayangkan diri anda dalam keadaan yang menyenangkan. Atau jadika mental snap shots akan hal-hal kecil yang indah (langit biru, deburan ombak,rumput hijau, dan lain-lain) sebagai pusat konsentrasi anda saat merelaksasi pikiran.
•  Menantang pikiran negative
Berhenti berpikir negative tentang situasi atau diri kita, misalnya mengharapkan kegagalan, merasa tidak mampu, dan sebagainya. Kita harus sadar akan pikiran negative lalu mengganti dengan pernyataan positif atau setidaknya menantang dengan pikiran rasionalnya.
•  Bicara positif dengan diri sendiri
Penggunaan bahasa dan pernyataan positif kepada diri kita dapat berguna untuk membangun kepercayaan diri dan menantang pikiran negative. Berguna jika realistic dan disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan kita.
•  Mengurangi ketidakpastian
Cari informasi yang dibutuhkan untuk mengurangi ketidakpastian. Situasi yang mengandung terlalu banyak arti dapat menimbulkan stress.
•  Analisa untung rugi
Apa penting kalau saya kesal karena hal itu?

Strategi Perilaku
Cara menghadapi stress dengan melakukan sesuatu, antara lain:
•  Latihan fisik untuk mengurangi stress.
•  Relaksasi.
•  Olah napas.
•  Senyum dan tertawa.
•  Manajemen waktu.
•  Dukungan dari lingkungan social.
•  Cari pertolongan.

Posted by Mr. P in 18:16:38 | Permalink | No Comments »

Saturday, November 14, 2009

MEWASPADAI MEDIA SEBAGAI “ORANGTUA KEDUA”

Berapa banyak dari kita sering kali membiarkan TV atau Play Station atau Game Boy dan computer menemani anak-anak kita di saat kita sedang beristirahat sehabis pulang kerja atau di saat kita sibuk mengurus hal lain di rumah? Malah sering kali kita sengaja memutarkan video kesukaan anak demi sedikit privacy yang kita butuhkan di waktu-waktu tertentu; pada saat kita berolahraga, atau ketika kita sedang lelah atau sibuk meladeni si bungsu.

DAMPAK MEDIA
Sadarkah kita efek dari media (TV,CD/Radio, video,games,computer, dll) yang menemani anak-anak kita tumbuh? Walaupun pada awalnya media bertujuan mendidik, kini banyak pemilik media kehilangan arah ketika harus memilih antara tujuan komersial yang menaikan peringkat dan tujuan pendidikan ideal yang cenderung tidak selaris acara komersial. Karena itu, banyak pemilik media tidak lagi berpikir panjang. Demi kelangsungan bisnisnya, mereka tidak segan mengekspos seks, kekerasan dan kultur ‘tertentu’ serta mengeksploitasi anak dan remaja kita ke dalam tayangan yang bersifat komersial. Banyak pengalaman dari industri pertelevisian menggambarkan bagaimana produser tidak perlu melihat content acara tersebut akan laku dijual atau menjajikan peringat yang tinggi.

Sebuah studi oleh Kaiser Family Foundation di tahun 2001, seperti dikutip dalam buku James Steyer yang berjudul The Other Parent (2002), menemukan dua pertiga tayangan TV di Amerika Serikat (termasuk 84% sinetron dan sitcom) kini mengandung adegan seksual. Angka ini naik 58% dari tahun 1998. Bagaimana kondisi di Indonesia? Walaupun data resmi tentang hal ini belum menjadi perhatian public atau pemerintah, kondisi di Indonesia rasanya tidak jauh berbeda. Terutama ketika kini, banyak layanan TV kabel menyajikan acara film atau pertunjukan yang asalnya dari Amerika Serikat. Lebih jauh, ketika orangtua lengah, media (tayangan TV, game dan internet) bisa jadi adalah “orangtua kedua” yang membentuk kehidupan anak-anak kita.

Media mempunyai kekuatan besar untuk membentuk cara berbicara dan perilaku mereka, merumuskan citra diri mereka dan menentukan pengharapan mereka. Bahkan media berpotensi untuk membingungkan anak-anak ketika mereka diperhadapkan dengan kenyataan akan hal-hal yang memutarbalikan norma dan mendegradasi nilai. Rokok,alcohol dan narkoba jadi kelihatannya seperti ‘hal yang biasa’ dalam pergaulan, perilaku jahat terlihat ‘keren’,penyelesaian masalah dengan otot atau kekerasan atau yang paling ‘ringan’ adalah penciptaan citra perempuan yang cantik itu harus tinggi, putih dan ramping, berambut panjang, dan lain-lain.

Universitas Maryland di tahun 1980-an menemukan kini remaja Amerika Serikat menghabiskan waktu 40% lebih sedikit dengan orangtuanya dibanding remaja di tahun 1960-an;dulu mereka setidaknya menghabiskan waktu 30 jam seminggu bersama orangtuanya, kini tinggal 17 jam! Dan 40% waktu ‘sisa’ ini dihabiskan remaja di depan TV, mendengarkan radio/CD, bermain playstation/video games!

PARENTS, THINK ABOUT IT!
Jika ada ‘orang lain’ yang menghasilkan waktu 4-5 jam perhari dengan anak kita dengan terus-menerus mengekspos seks, kekerasan dan nilai-nilai komersial, bukankah kita akan melarang ‘orang ini’ untuk berhubungan dengan anak kita?

Sayangnya, kita cenderung seringkali secara pasif-terutama karena masih dalam fase “penyangkalan media”-membiarkan anak kita secara rutin terekspos kepada ‘orang ini’ bahkan tidak berbuat apa-apa. Lebih parah lagi malah kadang-kadang kita ‘menyodorkannya’ karena kita sibuk dengan hal yang lain.

Hidup untuk media ?
Berbagai studi menyatakan bahwa pada umumnya di zaman modern ini, seorang anak menghabiskan rata-rata 28 jam  seminggu atau 4 jam per hari di depan TV dan 2-4 jam mendengarkan radio/musik/CD. Itu berarti seorang anak menghabiskan 13 tahun hanya menonton TV ketika mereka berusia 75 tahun! Belum termasuk mendengarkan musik, radio dan internet. Dan tentunya “the unknown hours” saat kita tidur, yang kira-kira terakumulasi menjadi sepertiga waktu kita hidup: total 25 tahun habis untuk tidur saat kita berusia 75!

“Apakah arti hidup ini jika tidak meninggalkan sebuah legacy?”

Jadi, jika sepertiga hidup kita lalui dengan tidur dan ditambah dengan waktu yang terbuang di depan TV, bisa-bisa hidup kita akan lewat begitu saja tanpa kita sadari. Oleh karena itu, kita perlu belajar menghitung hari supaya kita dapat beroleh hati yang bijaksana. Bijaksana dalam menghidupi hidup ini, bijaksana dalam mengajar anak kita untuk menghargai waktu agar hidup ini jangan berlalu begitu saja tanpa memberi arti apa-apa. Apalah gunanya kita hidup jika tidak meninggalkan suatu kesan kepada orang di sekeliling kita?

Berapa banyak waktu yang anda lewatkan bersama anak anda?
Sebuah survei menemukan bahwa rata-rata ayah di Amerika Serikat hanya menghabiskan waktu selama kira-kira 15 menit per minggu per anak! Apakah ayah di Indonesia lebih baik?
Data yang didapat dari sebuah survei di Jakarta seperti yang dikutip pada halaman 84 menemukan kebanyakan ayah di ibukota “kurang investasi waktu” dengan anak sehingga anak sangat jarang bercengkrama dengan ayah dibanding dengan ibunya.
Dalam hubungannya dengan media massa, anak-anak jelas membutuhkan kedekatan dengan orangtuanya untuk dapat secara terbuka ‘membahas’ hal-hal yang ia lihat,dengar dan saksikan melalui media massa.

Orangtua berkewajiban untuk meletakkan nilai-nilai dasar yang membantu anak menyaring pesan-pesan dari media massa dengan cara:

1.Membatasi akses dan paparan anak-anak kita terhadap media, terutama ketika mereka masih muda.

2.Membantu anak memroses dan memahami pesan-pesan media untuk mengubah sebanyak mungkin pengalaman mereka dengan media mejadi pengalaman positif.

3.Mengisi waktu yang berharga dengan menonton TV bersama anak. Tentunya menonton pertunjukan yang sesuai dengan umur anak anda. Jika anda mempunyai beberapa anak, usia anak yang terkecillah yang harus menjadi patokan pemilihan siaran atau film.

Sumber:  Buku Raising Drug-Free Children

Ditulis oleh: Veronica Colondam

Posted by Mr. P in 20:15:26 | Permalink | No Comments »

Friday, November 13, 2009

Menjadi Orangtua

Menjadi orangtua atau parenting adalah sebuah profesi yang tidak ada sekolahnya. Sementara itu, menjadi orangtua adalah sebuah pekerjaan yang sangat berat; mempersiapkan anak untuk kelak bermasyarkat dan membesarkannya untuk menjadi individu yang bertanggungjawab.

Menurut ahli ilmu konseling keluarga keluarga dari Johnson Institute Minneapolis, Amerika Serikat, David J.Wilmes (1995), orangtua perlu sensitif dalam mengambil peran yang tepat dalam kehidupan anak dan harus sepakat dalam mendidik. Hindari “mixed messages”  sehingga anak bingung siapa yang harus dituruti, kata mama atau kata papa?

Ada beberapa tahapan parenting menurut wilmes yang dia sebut sebagai “job description” atau deskripsi tugas sebagai orangtua. Tahapan ini berbicara tentang peran orangtua yang perlu disesuaikan pada setiap tingkat kehidupan anak.

Level I : From Control to Freedom

Dari memegang kendali :  memberikan kebebasan

Level II : From Freedom to Responsibility

Memberikan kebebasan : menekankan tanggung jawab

Pada Level I,
diperlukan kejelian orangtua untuk ‘mengambil kendali’ atau  ‘membiarkan anak memilih’. Batasan itu memerlukan kesediaan dan kerelaan orangtua untuk ‘melepas’ anak untuk bersikap. Karena hal itu berarti orangtua harus siap dengan kenyataan bahwa mereka tidak lagi berkuasa penuh atas hidup anak mereka. Pada saat anak bertumbuh, ketika mereka telah dapat lebih mandiri, orangtua seakan-akan kehilangan ‘kuasa’ atas anak mereka. Inilah konsekuensi pendidikan.

Pendidikan membuat seorang individu dapat mempunyai pendapat dan pendirian. Hal itulah yang menjadi dasar mereka dalam mengambil keputusan secara dewasa. Orangtua harus dapat menerima saat anaknya mulai mempertanyakan pendapat orangtua atau ‘melawan’ kehendak orangtuanya.
Hanya dengan kebijaksanaan maka orangtua harus tahu kapan akan mengambil kendali atau membiarkan anak untuk tumbuh dengan memiliki rasa aman dan kemerdekaan sejati sebagai individu. Orangtua harus memfasilitasi proses ini sehingga kebebasan atau kemerdekaan yang dimiliki anak untuk bersikap dan berpikir ini tertuju kepada kebebasan yang bertanggungjawab.

Pada Level II, dalam memfasilitasi kebebasan yang bertanggung jawab orangtua wajib melatih anak membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya. Mulai dari hal yang sederhana sampai hal-hal yang lebih besar. Di saat mereka kecil, anak dapat dibiasakan untuk memilih permen yang dia mau atau baju apa yang dia ingin kenakan. Di saat remaja, biarkan mereka memilih untuk mengikuti ekskul bola atau piano. Jika orangtua tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sejak dini, hal ini dapat mengakibatkan ketidakmampuan anak untuk bertumbuh dan mengerti arti tanggung jawab atas pilihan-pilihan yang mereka ambil.

Bagi anak, biarkan mereka belajar dalam kebebasan mereka memilih; mereka mungkin membuat pilihan yang salah. Akibatnya, hal ini mendapatkan konsekuensi. Ajarilah anak, jika mereka berani membuat pilihan tertentu berarti mereka harus berani pula menerima konsekuensinya. Siapa teman yang dipilih, atau apakah narkoba perlu dicoba adalah hal-hal di mana mereka harus selalu memilih.

Kekompakan orangtua sangat penting. Selain anak menjadi tidak bingung dengan ‘gaya orangtua’ yang berbeda, pendapat atau cara tunggal ayah ibu dalam mendidik anak akan membuat anak tumbuh dengan mantap dalam lingkungan yang ‘aman’;aman karena konsisten dan konsistensi ini berarti sikap orangtua menjadi dapat diperhitungkan oleh anak.

Sumber: Buku Raising Drug-free Children oleh Veronica Colondam

Published by : PS

Posted by Mr. P in 20:03:13 | Permalink | No Comments »

Tuesday, April 28, 2009

FLU [emang] BABI

Sekarang lagi marak yang namanya FLU BABI… apaan lagi sih tuh? setelah ada Flu Burung dan Flu Singapura, muncul nama penyakit baru yang namanya FLU BABI.. Pusat endemi Flu ini ada di Mexico, dari berita semalam yang gw baca, penyakit ini telah menewaskan 149 orang di negara yang berbatasan dengan amerika serikat itu.

Seperti yang diranggkum dari wiki, Flu babi adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A[1] Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia.

Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian[3] Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1[4] H1N2,[4] H3N1,[5] H3N2,[4] and H2N3.[6] Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agustus 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi.

Guna mencegah penyebaran Flu tersebut agar orang-orang disekitar kita senantiasa sehat maka dapat dilakukan hal-hal berikut ini;

1. Jaga kebersihan diri, pastikan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta setiap selesai bekerja (sebelum pulang kerumah) dengan menggunakan sabun.
2. Gunakan Masker bila sedang terserang flu atau tutupi mulut anda dengan sapu tangan atau tissue agar virusnya tidak menyebar ke orang orang lain.
3. Makan-makanan yang sehat
4. Lakukan olah raga
5. Istirahat yang cukup

Posted by Mr. P in 06:09:34 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, March 24, 2009

EARTH HOUR 2009

Earth Hour 2009 bertujuan untuk menjangkau 1 miliar orang di 1000 kota diseluruh dunia yang ada dalam komunitas-komunitas, perkantoran maupun pemerintahan utuk MEMATIKAN LAMPU selama satu jam dari jam 8:30 malam pada hari sabtu, 28 maret. WWF, melalui kegiatan mendunia yang bersejarah ini, ingin mengirim PESAN KUAT kepada para pemimpin dunia kita, bahwa bersama, tindakaN sekecil apapun akan mewakili suara dunia untuk beraksi dalam mengatasi perubahan iklim.

Aksi nyata! inilah yang bisa kita lakukan.. ayo ajak, seluruh keluarga, teman, rekan bisnis, kalo perlu kantor kita untuk ikut aksi ini. gampang kok tingal matiin semua lampu yang ada dirumah selama satu jam hari Sabtu tgl 28 Maret besok.. JUST DO IT!

 

Posted by Mr. P in 06:32:44 | Permalink | Comments (2)

Friday, March 20, 2009

5TH - BABY IN THE PROCESS

Ngeliat list kerjaan jam segini, udah kecoret (red: tak tersisa) semua… bingung mau buang waktu untuk apa.. ya blogging ajah deh.. waktu sholat Jum’at sejam lagih.. lumayan kan…

yang mau gw share kali ini mengenai cek kandungan bulanan yang dilakukan istri gw semalem. udah memasuki bulan kelima dan gak terasa ajah, “Baby” yang sedang dalam proses itu semakin tumbuh dan berkembang. sebenernya gw belom pernah share di blog ini cek kandungan bulanan dari bulan 1 sampai 4… makanya loe gak akan nemuin postingan di blog ini seri 1-4- Baby in The Processnya.. (kekekke..).. dan.. kira2 apa sih yang dicek dan dilakukan setiap kali kita ke dokter kandungan.. gw list deh..:

1. Sampaikan KELUHAN
gak bakal lupa nih, soalnya pas ketemu ama dokternya pertama kali, dia langsung nanya.. “Apa Kabar?”… hehe.. langsung lah diberondong dengan keluhan2 yang ada… nah memasuki bulan kelima ini semakin banyak keluhannya… khususnya didaerah kewanitaan para Bu-Mil.. seperti KEPUTIHAN.. nah ini sangat umum dialami pada fase2 sekarang karena bobot badan dah semakin berat dan cairan dalam tubuh tambah banyak, namun demikian patut diwaspadai jika cairan keputihan yang timbul BERLEBIHAN, BIKIN GATEL, BERWARNA KEKUNINGAN dan BERBAU.. it must be something wrong with you…langsung cek lah.. jangan didiamkan… tapi kalo Keputihan Normal cukup sering2 dibersihin ajah. (jangan didiemin juga).. trus ada juga keluhan mengenai lemak yang muncul disekitar SLANK-angan.. ^ ^ wah.. kayaknya bakal menderita banget.. karena kulit dibagian itu akan saling nempel dan  bikin lembab banget jadinya bisa bikin lecet dan perih.. minta salep ajah ama doketernya….

2. USG
Ini pasti, buat meriksa perkembangan fisik bayi.. dari bulan 1-6, USG dilakukan sebulan sekali soalnya radiasi yang dipancarkan dari alat itu lumayan besar dan bisa membahayakan janin dalam kandungan kalo sampai USG dilakukan dalam rentang waktu yang pendek 1-2 minggu ….. setiap bulan kita bisa liat tuh mulai dari tulang kepala sampe tulang kaki… lucu banget deh.. malah waktu dibulan ketiga gw liat kakinya juggling kayak orang naik sepeda atau main bola.. heheh.. dan juga bisa liat jantung yang dag-dig-dug… dan kebetulan di Silloam, dokternya masih pake 2 Dimensi makayan blom terlalu jelas keliatan fisik bayinya… dan sebenernya di RS itu ada sih USg yg sampe 4 Dimensi.. itu Colourfull dan kita bener2 bisa liat bayi dalam kandungannya dengan sangat jelas…  

3. Pemberian VITAMIN/SUPPLEMEN
kalo cek kandungan sama ajah kayak ke pom bensin.. isi ulang.. bedanya ini isi ulang Vitamin/Supplemen… heheh.. Good lah… ini bagian dari Investasi ke anak sedari dini..

oia.. semalem Calon anak gw pinter banget, dia nurut ama gw untuk jangan kasih tau umynya jenis kelaminnya apah, haha.. Good Job nak!… trus semalem istri gw juga disuntik untuk kedua kalinya, suntikan semacam imun dari kuman2 sekitar kayak di Toilet umum (buat yg sering pergi ke Mall, kantor atau jalan2), trus alat-alat mandi.. sangat perlu nih suntikan.. karena memang Bu-Mil itu sangat sensitif terhaap kuman.. suntikan ini bagusnya sih dilakukan sebelum hamil… sebelum nikah malahan.. jadi gak perlu dua kali deh kayak pas hamil sekarang…

trus ngomongin suntikan, semalem juga si Umy, sekalian tes Toksoplasma… ini virus/bakteri yang paling ditakuti semasa hamil… biasanya si tokso ini berasal dari KUCING atau ANJING. jadi kalo dirumah punya dua binatang itu.. JAUH2 DEH! karena risikonya besar banget lo… bisa bikin anak kita cacat.. naudzubillah … harusnya sih tes tokso ini dilakukna juga sebelum hamil, jadi bisa dibikin “Clear” (minjem istilah Bu dokter) pas hamil.. biaya tes tokso semalem sih 800k… lumayan yah… tapi buat anak, apa sih yang nggak… (ditanggung pulak ama kantor, mudah2an ajah gak ekses)..heehhehhe…

sekian deh.. dah mo soljum neh… ciao…

Posted by Mr. P in 04:35:39 | Permalink | Comments (2)

Thursday, March 19, 2009

INDONESIAN STRONG FROM HOME

Kebetulan lagi kerja pagi ini nerima email dari teman kantor mengenai  “NILAI” yang disorot akhir-akhir ini dalam sistem pendidikan di Indonesia.. dan kebetulan juga sih kemarin baru baca di kompas kalo standar “NILAI” kelulusan untuk tingkat sekolah dasar bakalan di naikkin lagih… dalam hati gw pas baca berita itu kemarin.. “maunya apa sih orang2 ituh? gak nyadar apa yah kalo sistem pendidikan yang berujung kepada “NILAI” seperti itu akan mematikan kreativitas, kecerdasan dan kejeniusan anak2 Indonesia..”.. (kasian juga adek, saudara, ponakan gw yg masih kecil.. hehe..)

pas banget deh ama Email yang gw baca pagi ini…. dan gw mungkin gak akan nge-bahas lebih mendalam mengenai hal kayak gitu disini karena emang gw bukan pakarnya juga sih.. ^ ^ opini yang gw ungkapin diatas hanya berdasarkan hasil bacaan sana-sini plus mencoba mengingat-ingat bagaimana orang2 besar dunia kayak Bill Gates, Thomas Alva Edison bahkan Nabi Muhammad SAW bisa sukses di dunia. trus gw liat di penghujung email itu ada Blog source yang merupakan asal muasal dari isi email itu…
http://ayahkita.blogspot.com/

penasaran, surfing deh langsung ke sana.. dan makin semangat pas ngeliat judul blognya.. “INDONESIAN STRONG FROM HOME”.. menarik…. dan semakin antusias baca kata demi kata dari AYAH EDI (pengelola blog ini) yang sangat inspiratif. sebagai calon ayah dan kepala keluarga, (ciehh. cieh.. kekeke.).. gw pikir ilmu2 kayak gini nih yang gak akan bisa didapet di sekolah ataupun di kampus. ya gak? si ayah edi ini ternyata pembicara juga di radio SMART FM 95.9 (Talk shownya tiap Sabtu jam 10-12)… Good job dad!..

dan setelah baca-baca di blog itu.. gw rekomendasiin banget (5 Star) deh buat AYAH-BUNDA, PAPI-MAMI, ABI-UMI atau EMAK-BABA,.. (hahhaha..) yang emang mau atau sednag ngebangun KELUARGA khususnya dalam mendidik anak-anak tercinta yang nantinya bisa berguna buat bangsa dan negara kita INDONESIA… MERDEKA!!!!

Posted by Mr. P in 04:35:27 | Permalink | Comments (1) »

Wednesday, March 11, 2009

Orang Bijak Taat Pajak


Sebagai pemilik NPWP, konsekuensi yang harus ditanggung adalah melakukan pelaporan pajak penghasilan setiap tahun dan kemarin setelah nerima lampiran I-A SPT Tahunan PPH ps 21 (Formulir 1721-A1) yang udah dibuat kantor, gw langsung dengan sregepnya (Kayak pembokat.. ^ ^) download Formulir SPT tahunan di website kantor pajak www.pajak.go.id..

trus Disitu ada dua pilihan Formulir 1770 S atau 1770 SS… nah bedanya apa sih? simplenya sih gini, kalo perhitungan penghasilan loe di formulir 1721 -A1 jumlahnya dibawah 60 Juta berarti loe pake formulir yang 1770 SS, kalo diatas itu yah pake yang Snya satu… hehhehe. berhubung gw pegawai rendahan dan berpenghasilan dibawah 60 juta. gw download lah yang tipe SS (kayak rumah susun yaaa….) and isi deh..

yang paling mikir adalah ngisi kolom JUMLAH KESELURUHAN HARTA dan JUMLAH KEWAJIBAN/HUTANG pada akhir tahun.. dan gw gak ngerti kenapa bagian ini harus diisi karena sangat berpotensi untuk mengisi dengan jumlah yang asal2an.. iya dong.. soalnya saat kita ngelapor ke kantor pajak yang dibawa cuma :
1. Formulir 1721 -A1 atau 1721-A2 (khusus PNS)
2. Formulir 1770 - SS atau 1770 - S

dan gak melampirkan Invoice kita, surat tanah, surat rumah, BBKP, Fotokopi tabungan, etc… jadi kayaknya mau ngisi asal2an juga bisa.. hehheheh.. (not recommended)..

Kalo bingung, tanya ajah bagian Payroll kantor loe atau telpon langsung ke kantor pajak (mereka ramah2 kok orangnya).. jangan dibuat pusing, sebagai warga negara kita wajib membayar, melaporkan dan mengawasi pajak..

ciao…

Posted by Mr. P in 07:49:05 | Permalink | Comments (2)