Money Can’t Buy Everything
Ditulis oleh: Mita Zoe
Apakah Anda menerima daftar pekerjaan anak disertai daftar harga layaknya menu di restoran? Jika ya, jangan menganggapnya enteng, mungkin anak sudah menganggap nilai uang atau materi lebih penting dibandingkan nilai ketulusan dan manfaat dari sebuah proses. Jika terus dibiarkan, anak akan memupuk sifat materialistis sedari kecil.
Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia Dr Tjut Rifameutia MA mendefinisikan materialistis adalah suatu sifat yang mengedepankan nilai materi pada keadaan yang kebutuhan materi sudah terpenuhi atau berlebihan. Anak yang memiliki sikap dan sifat matre ini biasanya terlihat konsumtif, selalu ingin memiliki barang-barang mutakhir, padahal tidakterlalu membutuhkannya. Anak cenderung ingin memiliki uang jajan berlebih, berteman dengan teman-teman yang berasal dari kelompok yang berada. Anak juga melakukan sesuatu dengan memperhitungkan untung ruginya dari segi materi seperti meminta reward atau dengan syarat-syarat.
Rifameutia mengatakan, hal ini terjadi karena anak belajar dari pengalaman dunia di sekitarnya. ‘’Anak diperkenalkan dengan konsep materi yang salah sehingga terbentuk pola kebiasaan tersebut pada anak,’’ jelasnya. Seperti, anak biasa melihat kekaguman orang-orang pada mereka yang bergaya trendy dan memiliki barang-barang baru. Bisa jadi juga karena orangtua seringkali bercerita yang mengedepankan nilai-nilai ekonomi dan materi. ‘’Sehingga anak merasa bahwa hidup itu untuk memperoleh nilai ekonomi yang tinggi dan memiliki berbagai materi,’’ sambung Tia.
Psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Januarani Razak Msi, mengatakan sebenarnya anak belum paham betul arti dari materialistis. Konsep materialistis ini berasal dari orangtua, yaitu bagaimana orangtua mempersepsikan materi. Dalam mengadopsi sebuah konsep umumnya anak-anak ada yang mampu mendefinisikan sendiri hal-hal yang ada di lingkungannya, sehingga bisa membedakan mana yang baik dan benar. Tapi, ada juga anak yang menjiplak hal-hal yang dilihatnya. “Alhasil pandangan orangtua dalam menilai materi yang tercermin dalam polah tingkah bisa tertular pada anak,” katanya.
Januarani memaparkan, jika sifat ini terus dibiarkan tumbuh pada anak, alhasil materi akan menjadi tujuan hidupnya kelak. ‚’Hal ini tentu berbahaya, karena anak berpotensi menjadi seseorang yang bisa mendewakan materi dan melakukan tindakan apapun untuk mewujudkannya salah satunya korupsi,’’ ujarnya. Oleh sebab itu, tanamkan konsep materi yang benar. Materi bukanlah tujuan melainkan sarana dan penunjang. Ajarkan materi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup dan beramal pada orang lain. Semakin banyak materi yang didapatkan, maka semakin banyak orang yang bisa dibantu. ”Paling penting berikan pemahaman, materi bukanlah hal yang kekal dan bisa kapan saja diambil oleh yang maha kuasa,” kata Januarani.
Materialistis vs selera tinggi
Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Wahyu Indiati Msi, mengingatkan jangan sampai orangtua salah menilai, anak yang menyukai barang bernilai tinggi belum tentu materialistis. Bisa jadi si anak memiliki selera yang tinggi dalam menilai sesuatu. ’’Persepsi ini dibentuk dari nilai-nilai yang ditanamkan orangtua saat beropini menilai suatu barang,’’ katanya. Untuk itu, orangtua perlu memperkenalkan beragam pilihan barang atau lingkungan. Misalnya, anak tak hanya diajak ke mal saja, tapi juga ke panti asuhan. Atau anak tak hanya dibelikan barang bermerek saja, tapi juga barang yang harganya lebih murah namun kualitasnya tak kalah. ”Kedekatan (bonding) antara anak-orangtua juga mempengaruhi sampai atau tidaknya pesan yang disampaikan orangtua,” katanya.
Indiati melanjutkan, anak dikatakan materialistis ketika sudah sampai batas tidak pernah merasa puas dalam memenuhi kebutuhan dirinya terhadap materi. Biasanya ini terlihat anak seringkali menuntut untuk dipenuhi keinginannya. Misalnya, anak menuntut dibelikan mainan kemudian meminta mainan jenis yang lain dalam waktu yang singkat. Sehingga tak urung anak matre dikategorikan manja yang tidak memahami arti keterbatasan, padahal dalam kehidupan nyata tidak semua keinginan tercapai.
Indiati mengatakan, orangtua perlu hati-hati memberikan materi khususnya uang sebagai bentuk penghargaan (reward). Karena materi bersifat imun, artinya nilainya akan semakin turun jika terlalu sering diberikan, selain itu anak tidak pernah puas dan anak merasa tidak menemukan ketertarikannya lagi. Sebenarnya penghargaan bisa diberikan melalui pelukan, senyuman, dan hal-hal yang bersifat sosial. Meskipun benda, usahakan benda yang berdaya guna.”Anak yang sudah tahu nilai uang, cenderung mengumpulkan lalu membelanjakannya, anak pun jadi konsumtif,” katanya.
Januarani memaparkan, di usia dua tahun anak sudah bisa diajarkan untuk mengendalikan kebutuhan materinya. Misalnya, ketika membawa anak berbelanja di supermarket, minta anak membuat daftar kebutuhannya sendiri dengan membuat gambar sederhana dari barang-barang tersebut seperti susu, pampers, permen, dan lain sebagainya. Jangan lupa tanyakan seberapa penting barang-barang tersebut baginya. Jika anak mencantumkan jumlah barang terlalu banyak, jangan langsung membelalakkan mata.
Coba diskusikan jumlah yang sesuai berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya, lalu terangkan akibatnya jika anak membeli terlalu banyak. Luangkan waktu mengobrol dengan anak untuk membicarakan segala hal, termasuk membicarakan konsep materi sampai ketika anak ingin membeli sesuatu. “Jangan membeli barang yang tidak tercantum dalam daftar pribadinya, meski anak merengek. Diperlukan sikap konsisten dari orangtua,” kata Januarani. Jangan terapkan sikap berlebih-lebihan sehingga anak memiliki tingkat kebutuhan yang tinggi terhadap materi. Seperti, membiasakan anak membeli baju baru jika pergi ke acara ulang tahun. ’’Berhemat diperlukan untuk menghindari sikap materialistis,’’ ujar Januarani. Anak perlu diajarkan untuk menilai sesuatu dari kebutuhannya. Orangtua tak sekadar melarang anak membeli ini dan itu, tapi juga mencontohkannya.
Tak jarang orangtua seringkali mencari jalan pintas untuk menekan keinginan anak membeli sesuatu, seperti membohongi anak dengan alasan ’tidak punya uang’. ’’Sebaiknya katakan dengan bijaksana, bahwa Anda memiliki uang sejumlah itu namun harus dibagi-bagi untuk kebutuhan lainnya,’’ kata Januarani. Jika perlu berikan perinciannya pada anak seperti biaya sekolah, belanja rumah tangga, makan bersama, menyumbang yayasan, membeli baju anak, dan kebutuhan pribadi Anda. Ini akan mengajarkan anak menunda keinginannya. Di sisi lain, beri pemahaman anak bahwa materi tidak bisa memenuhi semua kebutuhan. Untuk itu orangtua perlu mengetahui benar kemampuan dan konsep dirinya agar bisa menularkannya pada anak. Misalnya, paparkan keadaan keuangan Anda dengan bijak pada si anak.
Masing-masing anggota keluarga membuat daftar biaya hidupnya, tulis secara rinci termasuk membeli baju atau makan bersama di kantin. Diskusikan dan coret hal-hal yang tidak perlu, hal ini juga berlaku untuk orangtua. Tawarkan solusi lain, misalnya acara makan di kantin diganti menjadi makan di rumah. ”Jangan menutup-nutupi keadaan kemampuan Anda pada si anak, ini akan menjadi pembelajaran baginya untuk menilai dan bertindak sesuai dengan kemampuan dirinya,” jelas Januarani.
Januarani mengatakan, sifat matrealistis bisa mempengaruhi nilai sebuah ketulusan. Ketika menerima sesuatu, orangtua jangan langsung menilainya dari segi nilai materi dan sikap yang menggambarkan hal tersebut. Tanpa disadari, anak menilai bahwa sebuah pemberian hanya dilihat dari nilai materinya saja. Materialistis bisa mengubur rasa empati anak. Karena anak terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah sehingga seringkali mengecilkan suatu persoalan.
Dalam persepsinya, materi bisa didapatkan dengan mudah begitupun pada orang lain tanpa menyadari bahwa ada orang-orang yang tidak beruntung di sekitarnya. Selain itu, anak juga cenderung tidak menghargai sesuatu, tambah Indiati, cobalah sesekali ajak anak berjalan-jalan mengikuti proses pembuatan sesuatu seperti proses membuat pensil atau kerajinan tangan. Dengan melihat kesulitan dan kerja keras dari pembuatan tersebut, anak akan lebih menghargai segala sesuatu yang mereka miliki. ”Tugas manusia bukanlah sekadar mensejahterakan dirinya sendiri melainkan juga orang disekitarnya,” ujar Januarani.
Rifameutia menambahkan, dampak lain dari sikap matre anak jadi menghalalkan segala cara untuk memperoleh yang diinginkannya dan mempertahankan kepemilikannya atas suatu barang dengan begitu kuat. Alhasil, ia tidak mau berbagi. Ada baiknya orangtua juga mengimbanginya dengan mengajarkan nilai-nilai persahabatan, kerja keras dan kerja sama lewat bercerita.
Sumber: Inspired Kids Mag

